Kampanye Perdana, FAM-SAH Komitmen Lanjukan Pembangunan di Sula
Sanana, Maluku Utara – Calon Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Sula Nomor urut 2 Hj. Fifian Adeningsi Mus dan Hi. Saleh Marasabessy, melaksanakan kampanye perdana di Kecamatan Sulabesi Timur, Kepulauan Sula. Kamis (26/09/2024).
Kampanye di hadiri oleh, Ketua Partai Golkar Kepsul, Ketua Gerindra Kepsul, Ketua PBB Kepsul, Ketua PDI Perjuangan, Ketua PKB Kepsul, Ketua PPP Kepsul, Ketua PKS Kepsul, Ketua Hanura Kepsul, Tokoh Politik yang juga sebagai Mantan Wakil Bupati Kepulauan Sula Zulfahri Duwila, Tokoh Ismail Kharie, Ketua Partai Umat Kepsul, Ketua Gelora Kepsul, Tim Bravo Family, Tim Srikandi, Tim Melenial serta Tim Keamanan Fam-Sah Periode 2024-2029.
Saat berkampanye, Calon Bupati Kepsul Hj. Fifian Adeningsi Mus menyampaikan bahwa ia bersama Pa Wakil Bupati Kepulauan Sula meminta Do’a dan dukungan dari Tim, simpatisan serta keluarga besar warga Sulabesi Timur agar memberikan kepercayaan kedua kalinya untuk melanjutkan pembangunan di daerah Kepulauan Sula 5 tahun kedepan.
Menurutnya, Pembangunan fisik maupun non fisik di masa kepemimpinannya yang baru 3 tahun 3 bulan masih lebih baik dari periode 5 tahun sebelumnya. Kenapa tidak, awal dilantik tahun 2021-2022 masih menghadapi Covid19 dan dilanjutkan dengan Pileg dan Pilpres sehingga anggaran terpakai habis.
“Saya dan Pa Wakil tidak menyerah dan terus membangun demi kepentingan dan kebutuhan masyarakat di kepulauan sula, salah satunya adalah akses jalan di Pulau Sulabesi dan Jalan Pulau Mangoli. Selain itu, dibidang kesehatan, pendidikan dan keagamaan serta kelautan dan perikanan terus di bangun tanpa ada pilih kasih antar desa dan kecamatan di kepulauan sula,” ujarnya
Ia hilang, Saat mengilingi Pulau Sulabesi ia selalu sedih dan meneteskan air mata bahagia, karna meski di beri durasi waktu yang pendek dalam memimpinnanya namun beberapa infrastruktur jalan seperti jalan kabau menuju Wai Ina serta jalan Waigai menuju Wailia sudah di bangun dan bisa digunakan oleh masyarakat.
“Saya selalu menangis di jalan tersebut, karena ini menjadi sejarah selama daerah kepulauan sula dimekarkan sekitar 20 tahun lebih baru bisa dirasakan oleh keluarga besar masyarakat di kabau-wai ina dan waigai-wailia,” pungkasnya (Red)










Tinggalkan Balasan